Langsung ke konten utama

Postingan

Komando Jihad Awalnya DIBINA-DIBINASAKAN akhirnya

Silaturrahmi ex-NII Gerakan Darul Islam lahir di tahun 1948 ditandai dengan   pemberontakan di daerah Jawa Barat dibawah pimpinan   Soekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, yang segera diikuti   kejadian serupa di Jawa Tengah. Secara resmi Kartosoewirjo mengumandangkan Negara   Islam Indonesia pada tanggal 7 Agustus 1949, akan tetapi   perlawanan bersenjata sudah dimulai sebelumnya. Secara terpisah,   pemberontakan atas nama Darul Islam pun muncul di   Kalimantan Selatan (1950); Sulawesi Selatan (1952)   dibawah Kahar Muzakkar, dan di Aceh (1953) dibawah   Daud Beureueh. Pada tanggal 1 Agustus 1962, setelah tertangkapnya   Kartosoewirjo, TNI AD berhasil membujuk 32 orang   perwira utama DI untuk mengikrarkan sumpah setia kepada   pemerintah dengan imbalan pemberian amnesti. Dalam   sebuah Ikrar Bersama, mereka memberi pengakuan bahwa   DI/NII merupakan gerakan yang sesat, dan bahwa mereka   telah berdosa te...

Kisah Tragis Tiga “King Maker”

Salim haji said Kisah Tragis Tiga “King Maker” Letnan Jenderal TNI (Purn.) Ahmad Kemal Idris wafat Rabu pagi 28 Juli 2010 dalam usia 84 tahun. Dengan kematian itu habislah tiga King Maker yang pernah bekerja keras menaikkan Soeharto ke takhta kepresidenan. Dua lainnya, Hartono Rekso (H.R.) Dharsono dan Sarwo Edhie Wibowo sudah lebih dahulu berangkat ke alam baka. Pada awal pasca-Orde Lama, mereka bertiga secara bersama telah bekerja keras menyingkirkan Sukarno agar terbuka jalan kekuasaan bagi Soeharto. Kebanyakan orang memang hanya melihat kepergian Ahmad Kemal Idris sebagai pertanda nyaris habisnya generasi Angkatan 45 TNI dalam masyarakat. Kemal, begitu almarhum populer dikenal, memang salah seorang tokoh penting dari angkatannya. Tapi, yang mungkin tidak menjadi perhatian orang banyak adalah peran penting Kemal pada dua peristiwa besar dalam sejarah dan peran politik militer Indonesia. Terbentang jarak yang jauh antara saat Kemal menghadapkan meriam ke Istana Merdeka ...

Kisah Tiga Jenderal Dalam Pusaran Peristiwa 11 Maret 1966

By: SOCIOPOLITICA “Kenapa menghadap Soeharto lebih dulu dan bukan Soekarno ? “Saya pertama-tama adalah seorang anggota TNI. Karena Men Pangad gugur, maka yang menjabat sebagai perwira paling senior tentu adalah Panglima Kostrad. Saya ikut standard operation procedure itu”, demikian alasan Jenderal M. Jusuf. Tapi terlepas dari itu, Jusuf memang dikenal sebagai seorang dengan ‘intuisi’ tajam. Dan tentunya, juga punya kemampuan yang tajam dalam analisa dan pembacaan situasi, dan karenanya memiliki kemampuan melakukan antisipasi yang akurat, sebagaimana yang telah dibuktikannya dalam berbagai pengalamannya. Kali ini, kembali ia bertindak akurat”. TIGA JENDERAL yang berperan dalam pusaran peristiwa lahirnya Surat Perintah 11 Maret 1966 –Super Semar– muncul dalam proses perubahan kekuasaan dari latar belakang situasi yang khas dan dengan cara yang khas pula. Melalui celah peluang yang juga khas, dalam suatu wilayah yang abu-abu. Mereka berasal dari latar belakang berbeda, jalan pikiran dan k...